Posted by: irwan on: Oktober 13, 2007
Kita menyadari bahwa setiap manusia memiliki dorongan hati untuk memaafkan. Karena itu memang “bekal” dari Tuhan. Namun tak semua dari kita bisa menggunakan bekal itu. Bukan karena Tuhan memilih, tapi memang kita sendiri yang terkadang cuek akan bekal itu.
Sulit memastikan apakah kita benar-benar telah memaafkan orang yang pernah menyakiti kita. Walau mulut ini telah berucap “ya, aku memaafkanmu”, tapi hati dan otak masih menuntun kita untuk mengingat kesalahan yang membuat kita sakit. Seolah-olah itu merupakan bisikan alam bawa sadar saat bertemu atau teringat dengan penyebar penyakit itu.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah ini juga merupakan bekal dari-Nya agar kita tak terjerusmus lagi untuk disakiti kedua kalinya?
Jujur, aku sendiri masih belum bisa menjawab.
Seandainya jawabannya adalah YA maka lebih baik tak perlu memaafkan. Tapi seandainnya jawabannya adalah TIDAK, lalu bagaimana agar hati dan otak kita tak mengingat lagi rasa sakit itu.
It’s too complicated. Someday I hope I know the correct one.
Irwanto Laman
Komentar Pengunjung